Connect with us

Raja Jogja Laporkan Situs yang Menyebarkan Hoax ‘Tionghoa Adalah Satu-Satunya Penghianat NKRI’

Sultan Jogja Laporkan Situs yang Menyebarkan Hoax 'Tionghoa Adalah Satu-Satunya Penghianat NKRI'
Screenshot. (TRIBUNJOGJA)

Berita Nasional

Raja Jogja Laporkan Situs yang Menyebarkan Hoax ‘Tionghoa Adalah Satu-Satunya Penghianat NKRI’

RANCAH POST – Sebuah portal berita berbasis blog ‘metronews.tk’ dilaporkan Sri Sultan Hamengkubuwono X ke Polda DIY.

Laporan itu berkaitan dengan adanya pemberitaan dari situs tersebut yang berjudul ‘Sri Sultan Hamengkubuwono: Maaf Bukan SARA, Tapi Cina Dan Keturunannya Tidak Pantas Jadi Pemimpin Di Bumi Nusantara. Fakta Sejarah, Tionghoa Adalah Satu-Satunya Penghianat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).’

Dijelaskan Sri Sultan Hamengkubuwono X, dirinya tak pernah menyampaikan pernyataan sebagaiman yang disebutkan dalam situs tersebut.

Ia pun megaskan bahwa pemberitaan yang kemudian viral di media sosial itu merupakan hoax alias berita bohong.

“Tidak benar itu, saya tidak pernah berkata demikian,” tegas Sri Sultan di Kompleks Kepatihan, Rabu (19/4/2017) silam.

Berikut ini kutipan penuh pemberitaan situs metronews.tk yang diluncurkan pada (17/4/2017) lalu.

Raja Keraton Ngayogyakarta yang juga Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono mengingatkan kepada seluruh umat islam terutamanya yang ada di Jakarta tentang fakta sejarah yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

BACA JUGAFrikal Dihukum Tak Beradab, Sultan Jogja Angkat Bicara

Sesungguhnya, Umat Islam adalah umat paling penuh cinta kepada alam semesta ini sebab mereka mencita-citakan seluruh bumi tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT. Mereka rela berdampingan dengan siapapun, bertetangga dengan menunjukkan akhlak mulianya.

Dan sejarah di Yokjakarta ini, mohon maaf, bukan SARA tapi kita ingin satu fakta sejarah. Tahu kenapa saudara-saudara Tionghoa tak punya hak girik di wilayah Yokjakarta? Mereka hanya punya hak milik bangunan semata-mata.

Mohon maaf, ini soal sejarah dilihat dan diakui. Pada agresi militer kedua Belanda, Desember 1948. Komunitas Tionghoa di Yagjakarta member sokongan kepada agresor Belanda itu.

Maka pada tahun 1950, ketika tegak kembali NKRI kita dari Jogjakarta ini, mereka sudah bersiap-siap eksodus. Tapi oleh Sultan Hamengkubuwono IX, mereka ditenangkan dan Sultan mengatakan, ‘anda meskipun berkhianat kesekian kalinya terhadap negeri ini, tetap kami akui sebagai tetangga dan tidak perlu pergi dan tinggalah disini. Tapi mohon maaf, saya cabut satu hak anda untuk memiliki tanah. Karena keserakahan sepanjang sejarah’.

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita Nasional

Advertisement
Advertisement
To Top