Sudah Ada Sejak Abad ke-16, Masyarakat Pangandaran Gelar ‘Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem’

Sudah Ada Sejak Abad Ke 16 Masyarakat Pangandaran Gelar Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem
Sudah Ada Sejak Abad Ke 16 Masyarakat Pangandaran Gelar Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem

BERITA PANGANDARAN, RANCAH POST – Ada tradisi khas yang dimiliki masyarakat adat Desa Campaka, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Tradisi buhun itu dinamakan ‘Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem’.

Konon kabarnya, tradisi ‘Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem’ masyarakat adat Desa Campaka itu sudah ada sejak abad ke-16 pada masa pemerintahan Sukapura.

Gelaran tradisi ‘Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem’ sendiri dihadiri oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata selaku ‘Kanjeng Dalem’.

Tak sekedar hadir, Bupati Jeje dalam acara tersebut diberi kesempatan menabur berkilo-kilo ikan ke muara Sungai Siapatahunan yang kemudian ditangkap oleh masyarakat yang hadir dalam acara ‘Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem’.

Dalam sambutannya, Kanjeng Dalem Jeje Wiradinata mengatakan bahwa acara tersebut tak hanya dilestarikan, namun juga dikembangkan.

Sebab, dengan adanya kegaitan tersebut, silaturrahim antara pemimpin dan masyarakat terus terjaga. Selain itu, tradisi itu pun menjadi salah satu cara menjaga keberlangsungan sungai agar bersih dan lestari.

“Sebagai tradisi dan budaya, ini harus kita lestarikan. Secara bersama, kita jaga sungai agar kondisinya selalu bersih,” kata Jeje, sebagaimana dilansir Harapan Rakyat.

Adanya tradisi ‘Nuak Lauk Miwah Kanjeng Dalem’, sebagaimana dikatakan Camat Cigugur, Erik Krisna Yudha, merupakan bagian dari upaya mendukung visi misi Kabupaten Pangandaran dalam memperkuat kearifan lokal.

“Insya Allah ini akan menjadi agenda rutin tiap tahun di sini,” tutur Erik.

Sementara itu, tak ubahnya dengan warga Pangandaran, warga Ciamis pun memiliki tradisi ‘Merlawu’.

Tradisi itu dilestarikan warga Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

BACA JUGA: Tradisi Merlawu, Tradisi yang Digelar di Ciamis pada Bulan Mulud

 Tradisi tersebut, merupakan bentuk penghargaan terhadap Syeh Padamatang, utusan Sunan Gunung Jati yang mendirikan Desa Wanasigra.
Loading...

Tinggalkan komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here